Tampilkan postingan dengan label Tentang Lain-Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Lain-Lain. Tampilkan semua postingan
17 Apr 2010
Tentang Pahlawan
Siapa pahlawan yang kamu idolakan?. Pertanyaan ini mungkin konyol. Karena sekarang anak-anak, orang dewasa bahkan orang tua lebih mengidolakan Superman, Spiderman, Iron Man atau Batman. mereka rela menguuras uang demi kecintaan untuk koleksi "super hero"-nya itu. Tapi ada atau tidak di antara mereka yang mengkoleksi super hero seperti Soedirman, Tan Malaka, Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol. Memang untuk untuk pasar kurang bahakan tidak diminati. Tapi apakah penghargaan terhadap pahlawan hanya ada pada poster, uang, atau nama-nama jalan. Dibandingakan film-film Superman, jelas kalah saing. Ada sedikit indikasi bahwa ini salah satu penjajahan ideologi bangsa oleh kaum kapitalis barat. Dengan dalih mengangkat tokoh fiksi bak pahlawan yang disegani. Menceritakan sejarah dengan disimpangkan. Misalnyta saja Rambo yang legendaris itu, fiksi memang. Dengan seting perang Vietnam, yang juga salah satu sejarah penting dunia, dengan mudahnya muncul sebagai sosok yang pemberani, rela berkoran bagi bangsanya. Padahal kita tidak tahu apa memang begitu adanya, atau bagaimana. Diantaranya Soedirman, sosok penting dalam perang Gerilya. Tahukah namanya hanya populer di jalan-jalan protokol, atau jalan kota, monumennya banyak dimana-mana?. Selayaknya kita sebagai pewaris perjuanngan beliau-beliau tetap pada rasa bangga mempunyai "super hero" versi kita ini?.
15 Mar 2010
Berpikir Beda
Berpikir menjadi orang yang berbeda dan sedikit kontroversi agaknya menjadi PR bagi sebagian orang yang benar-benar memikirkanya. Tak ayal banyak pandai-pandai mencari sebuah momen yang beda dari sebelumnya.
Banyak orang tipe seperti ini yang menjadi korban peradaban idealisme mayoritas yang secara tidak langsung menyisihkan mereka dari lingkungan sosial yang ada. Kontroversial amat berpengaruh terhadap keberadaanya, misalnya saja, Soe Hok Gie yang harus rela dikucilkan di lingkungannya karena kekritisannya pada masa itu. Sehingga di merasa pesimis, tetapi pesimisnya bukan simbol dari kepasrahan, justru sebaliknya dia melawan arus. Ungkapan tentang "Lebih mengasingkan diri daripada menyerah kepada kemunafikan", Menjadi simbol bahwa dia merasa apa yang ia lakukan adalah bentuk perlawana idealisme orang-orang umum. Sehingga sampai sekarang ada orang yang mengidolakan sosoknya.
Sekarang sudah empat dekade si pohon oak telah pergi. Apa yang ia wariskan kepada kita, generasi yang layaknya meneruskan perjuangannya. Sudah banyak sekali transformasi pemikiran, dengan makin merebaknya Globalisasi.
Bayangkan saja dulu anak-anak SMP masih belum mengenal dunia maya, sekarang sudah marak menjamur warnet-warnet yang penuh sesak oleh pelajar. Memang kita jangan pragmatis terhadap masalah seperti ini. Kita berpikir positif saja bahwa mungkin dari mereka kita mendapat suatu perubahan terhadap keadaan bangsa ini, tanpa merubah sikap keIndonesiannya. Bisakah kita merubah keadaa?
Banyak orang tipe seperti ini yang menjadi korban peradaban idealisme mayoritas yang secara tidak langsung menyisihkan mereka dari lingkungan sosial yang ada. Kontroversial amat berpengaruh terhadap keberadaanya, misalnya saja, Soe Hok Gie yang harus rela dikucilkan di lingkungannya karena kekritisannya pada masa itu. Sehingga di merasa pesimis, tetapi pesimisnya bukan simbol dari kepasrahan, justru sebaliknya dia melawan arus. Ungkapan tentang "Lebih mengasingkan diri daripada menyerah kepada kemunafikan", Menjadi simbol bahwa dia merasa apa yang ia lakukan adalah bentuk perlawana idealisme orang-orang umum. Sehingga sampai sekarang ada orang yang mengidolakan sosoknya.
Sekarang sudah empat dekade si pohon oak telah pergi. Apa yang ia wariskan kepada kita, generasi yang layaknya meneruskan perjuangannya. Sudah banyak sekali transformasi pemikiran, dengan makin merebaknya Globalisasi.
Bayangkan saja dulu anak-anak SMP masih belum mengenal dunia maya, sekarang sudah marak menjamur warnet-warnet yang penuh sesak oleh pelajar. Memang kita jangan pragmatis terhadap masalah seperti ini. Kita berpikir positif saja bahwa mungkin dari mereka kita mendapat suatu perubahan terhadap keadaan bangsa ini, tanpa merubah sikap keIndonesiannya. Bisakah kita merubah keadaa?
20 Jan 2010
Sebuah Tanya
akhirnya semua kan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah engkau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membalaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan kau berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah engkau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
ita begitu berbeda dengan semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jlan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru
(Soe Hok Gie)
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah engkau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membalaiku semesra dahulu
ketika kudekap kau
dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya
kau dan kau berbicara
tanpa kata, tanpa suara
ketika malam malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah engkau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
ita begitu berbeda dengan semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam
kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jlan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru
(Soe Hok Gie)
1 Okt 2009
Mahasiswa Bukan Boneka Mainan Dosen
Mahasiswa Bukan Boneka Mainan Dosen
Impian bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, adalah kebanggaan bagi sebagian orang. Terlepas dari seragam SMA, status siswa menjadi mahasiswa. Tentunya diikuti dengan pola pikir yang berubah, dan juga dapat mengfungsikannya dengan tepat pada porsi masing-masing mahasiswa.Telah kita ketahui mahasiswa adalah agent of change, penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa.
Tentunya harus disertai dengan sarana prasarana yang menunjang. Tapi jangan selalu terpaku dengan hal itu, sebagai contoh kita tetap bisa berteriak tanpa harus menggunakan mikrofon atau speaker. Jadi tergantung bagaimana mahasiswa dalam menyalurkan kreatifitasnya. Teatapi tidak menomorduakan sarana prasarana, yang sewaktu-waktu dapat kita manfaatkan.
Hal ini juga berpengaruh di antara masalah yang dijelaskan di atas, yakni masih adanya beberapa dosen yang masih menganggap mahasiswa seperti sebuah boneka mainan yang dapat dimainkan sesuka hatinya. Dosen-dosen yang seperti demikian juga faktor yang mempengaruhi proses kreatifitas mahasiswa. Ada dosen yang merasa sombong dengan kapasitas ilmu yang dimilikinya, yang sudah menempuh pendidikan lebih tinggi dan waktu yang cukup lama.Tak jarang dosen-dosen yang demikian adalah dosen yang sudah tua, bergelar doktor, professor.
Mereka mempersulit mahasiswa yang ingin benar-benar mencurahkan segala pemikiran yang dimilikinya. Dosen kerap memberi tugas, dan harus dikumpulkan tepat waktu. Apabila ada mahasiswa yang telat mengumpulkan tugas tidak diterima, ditolak mentah-mentah. Menurut mereka mahasiswa harus memiliki pemikiran yang sama dengan mereka. Jelas-jelas salah salah besar, karena setiap mahasiswa memiliki kadar pemikiran yang berbeda-beda. Satu sisi ingin bebas berkreasi tapi disisi lain mereka terpasung dengan sikap otoriter dosen. Pada umumnya mahasiswa adalah kaum muda yang sedang bergairah dalam proses mengekspresikan diri mereka. Seringkali tercetus pemikiran yang belum tentu dapat dimengerti dosen. Tanpa toleransi, itu yang patut dikatakan. Hal yang lain adalah setiap manusia dikaruniai skill dan bakat yang beragam. Apabila tidak dikembangkan, akan sia-sia. Padahal menurut Kuncoroningrat, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengembangkan potensi yang dimiliki individu tersebut.
Idealnya mahasiswa dapat terbantu dalam pencarian jati dirinya, bukan sebaliknya. Manakala dosen menentukan segala kebijakan dalam proses perkuliahan, dipastikan banyak hal yang tidak dapat tersampaikan. Jika tetap demikian dosen tetap dengan egonya, proses transfer ilmu dan nilai dari ilmu tersebut akan tersumbat. Selama ini dosen cenderung hanya melakukan transfer ilmunya, tetapi mengabaikan nilai-nilai kearifan budaya dan agama yang dapat digali dari sebuah ilmu.
Jangan menilai mahasiswa dari luarnya saja. Disini civitas akademika bukan SMA,SMP, SD, bahkan TK. Dalam pengaplikasian apa yang didapat di bangku kuliah lebih banyak yang behubungan dengan soft skill yang bukan didapat dari mata kuliah, makalah, praktikum, tugas, ataupun skripsi. Tapi bagaimana dia
Impian bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, adalah kebanggaan bagi sebagian orang. Terlepas dari seragam SMA, status siswa menjadi mahasiswa. Tentunya diikuti dengan pola pikir yang berubah, dan juga dapat mengfungsikannya dengan tepat pada porsi masing-masing mahasiswa.Telah kita ketahui mahasiswa adalah agent of change, penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa.
Tentunya harus disertai dengan sarana prasarana yang menunjang. Tapi jangan selalu terpaku dengan hal itu, sebagai contoh kita tetap bisa berteriak tanpa harus menggunakan mikrofon atau speaker. Jadi tergantung bagaimana mahasiswa dalam menyalurkan kreatifitasnya. Teatapi tidak menomorduakan sarana prasarana, yang sewaktu-waktu dapat kita manfaatkan.
Hal ini juga berpengaruh di antara masalah yang dijelaskan di atas, yakni masih adanya beberapa dosen yang masih menganggap mahasiswa seperti sebuah boneka mainan yang dapat dimainkan sesuka hatinya. Dosen-dosen yang seperti demikian juga faktor yang mempengaruhi proses kreatifitas mahasiswa. Ada dosen yang merasa sombong dengan kapasitas ilmu yang dimilikinya, yang sudah menempuh pendidikan lebih tinggi dan waktu yang cukup lama.Tak jarang dosen-dosen yang demikian adalah dosen yang sudah tua, bergelar doktor, professor.
Mereka mempersulit mahasiswa yang ingin benar-benar mencurahkan segala pemikiran yang dimilikinya. Dosen kerap memberi tugas, dan harus dikumpulkan tepat waktu. Apabila ada mahasiswa yang telat mengumpulkan tugas tidak diterima, ditolak mentah-mentah. Menurut mereka mahasiswa harus memiliki pemikiran yang sama dengan mereka. Jelas-jelas salah salah besar, karena setiap mahasiswa memiliki kadar pemikiran yang berbeda-beda. Satu sisi ingin bebas berkreasi tapi disisi lain mereka terpasung dengan sikap otoriter dosen. Pada umumnya mahasiswa adalah kaum muda yang sedang bergairah dalam proses mengekspresikan diri mereka. Seringkali tercetus pemikiran yang belum tentu dapat dimengerti dosen. Tanpa toleransi, itu yang patut dikatakan. Hal yang lain adalah setiap manusia dikaruniai skill dan bakat yang beragam. Apabila tidak dikembangkan, akan sia-sia. Padahal menurut Kuncoroningrat, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengembangkan potensi yang dimiliki individu tersebut.
Idealnya mahasiswa dapat terbantu dalam pencarian jati dirinya, bukan sebaliknya. Manakala dosen menentukan segala kebijakan dalam proses perkuliahan, dipastikan banyak hal yang tidak dapat tersampaikan. Jika tetap demikian dosen tetap dengan egonya, proses transfer ilmu dan nilai dari ilmu tersebut akan tersumbat. Selama ini dosen cenderung hanya melakukan transfer ilmunya, tetapi mengabaikan nilai-nilai kearifan budaya dan agama yang dapat digali dari sebuah ilmu.
Jangan menilai mahasiswa dari luarnya saja. Disini civitas akademika bukan SMA,SMP, SD, bahkan TK. Dalam pengaplikasian apa yang didapat di bangku kuliah lebih banyak yang behubungan dengan soft skill yang bukan didapat dari mata kuliah, makalah, praktikum, tugas, ataupun skripsi. Tapi bagaimana dia
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Mengenai Saya
- Kukuh A. Bakhtiar
- Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
- Lahir di Banyumas, Jawa Tengah. dengan nama Kukuh Aji Bakhtiar. tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, fakultas KIP. Aktif di kegiatan UKM Teater PERISAI