Hello... Responsival Theme is another template for Blogger users. PLAY with this responsive design and SEE the release on my blog.

Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karyaku. Tampilkan semua postingan

24 Okt 2010

Reinkarnasi

malam lewat begitu saja
dari tangkai yang hampir patah itu
padamu saja aku bercerita
karena aku tak berkaca
pada hari-hari

kau yang tak mau lepas dari sudut mataku
membuat ruang yang menjepit tubuhku
nikotin dan kafein mengendap di dada
ingin ku teriakan dalam sujud
tapi air mata bersimpah darah

di pelataran aku merengek
pertemuan jalan dipenuhi cabang
tak ada cahaya yang menuntunku

purwokerto, 23-10-10

6 Des 2009

Kegilaan Yang menggila

Entah apa yang harus kutulis, apa yang mesti ku lakukan, dan membaca situasi yang kian hari kian menggilla. Kau tahu sobat, kemarin aku menemukan sesuatu yang membuatku berdecak kagum. Bukan. Bukan, bukan. Kau tahu, masa tak tahu. Dia adalah sebuah tanda tanya besar yag akan membuka lebar jantung haiku nanti. Yah, seorang gadis manis, dengan ukiran lesung di pipi merahnya. Aduhai.....cantiknya. Jika orang lain bilang aku jatuh cinta. Tidak bagiku. Lantas!.
Lebih dari jatuh. Ah..tak usah di bahas aku saja tak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu sobat, bukan malu. Tapi rasa keingintahuan yang sungguh besar kepadanya. Seperti membelai angin yang terlalu lembut, untuk ku pegang. Menyapanya membuatku tampak seperti terhunus keindahannya.
Semoga apa yang aku rasakan ini adalah sebuah hakikat manusia untuk memiliki.

4 Des 2009

Lesung Pipit

Beberapa minggu yang lalu aku terlihat seperti hantu "menakutkan". Katanya sambil tersipu malu. Ah rasanya aku menyadari. Mungkin sebagian orang akan berstigma cowok gondrong itu identik dengan semrawut, nakal, atau yang lebih miris kriminal. Memang itu pilihan kita terserah, lah wong "bapake mamane" aku saja ga ngomel-ngomel. Itu sekarang waktu dulu awal-awal aku merintis usaha melestarikan usaha perawatan rambutku, ya sperti itu. Ngomel-ngomel terus bapak ibu.
"Kamu itu "cagur" mbok ya dandanane sing patut".
"Inggih pak...".
Ya seperti itulah, prolog dari cerita ini.
Lesung pipit itu kembali membutakan  mataku. Rasanya tak ingin aku melewatkan sedetikpun untuk mengalihkan mata ini. Sayang jika terlewat bisa-bisa dia terburu pergi. Gadis kerudung putih itu kembali membuatku tercabik rasa takjub. Kembali lesung pipit itu membutakan mataku. Jadi ingat dengan sebuah cerita Romawi kuno, Odipus yang membutakan matanya gara-gara dia jatuh cinta pada seorang wanita. Ternyata wanita itu ibunya sendiri. Ya, sungguh Dia sang Maha Perfect yang telah menciptakan makhluk yang satu ini, dengan keistimewaannya masing-masing.
Ohhhhhh.......
Tulung...tulung...
Rasanya untuk posting yang satu ini, hanya sampai disini dulu.


to be continued

18 Nov 2009

Hari Yang Istimewa

Jika ibarat kita mendapatkan sejumlah uang yang banyak apa yang akan anda lakukan. Shoppping, ditabung, beramal, bagi-bagi ke teman, dsb. Memang sangat dilematis jika kita mendapatkan sesuatu yang memang membuat kita menjadi buta. Hanya segelintir orang yang tak begitu. Aku tak membayangkan jika aku di dunia ini hanya sperti iu saja. Tak menjadi apa-apa, yang aku inginkan adalah "apa-apa"yang aku ingikan terwujud. Mungkin sudah banyak orang bilang, "Hidup adah perjuangan", "Hidup adalah perjuangan", memang itu penafsiran setiap individu berbeda-beda. Hakikat manusia hidup adalah tak sekedar mampir "ngopi", pernah ada pernyataan seperti itu.
Jika anda mendapati dan sadar dengan  sesadarnya ada sekarang sudah berumur berapa?, apa yang sudah kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita?, sejauh mana manfaat hidup kita?
Di hari yang istimewa ini aku ingin langkahku kedepan menjadi lebih terang, menjadi matang dalam segala hal, menjadi berarti bag semua orang, terakhir semoga tak lama lagi ada pengisi hatiku? Hah....?

22 Okt 2009

Tak Terduga
Cerpen Kukuh A. Bakhtiar

Tepat pukul 05:45 aku tebangun, dirumah Andreas teman SMP ku dulu, yang kental sekali gaya Eropanya. Terlalu sembrono bagiku mendahului sang mentari. Entah apa yang membangunkanku. Teman-temanku masih asik bercumbu dengan mimpinya dengan tidurnya. Setelah melewati malam, sambil nonton bola bareng. Hujan deras membasahi piggiran kota yang masih perawan, yang belum terjamah oleh globalisasi. Gelap dan sunyi. Tampak bebrapa orang yang mulai mengadu hari. Seorang nenek tua berjalan menggendong bakul. Tampak kontras dengan globalisasi jaman sekarang, yang semakin menggerus kearifan lokal.
Aku beranjak pulang, tanpa pamit aku langsung mengeber si Blacky, Vespa butut tinggalan bapak. Seklebat terbayang dalam benakku. Baru setengah jalan hujan deras megguyur.
Disebuah warung makan kecil di pinggir jalan aku berhenti rasanya perut ini berontak. Sambil menunggu hujan reda menghirup segelas kopi, dengan rokok kretek, rasanya kurang afdol jika membuka hari tanpa kopi dan rokok. Bukanya latah dengan istilah Mbah Surip yang terkenal itu, ”Perbanyak ngopi, kurangi tidur”, tapi memang sudah lama menjadi gaya hidupku. Aku duduk berjajr dengan laki-laki paruh baya, yang katanya tukang becak.
”Akhir-akhir ini hujan begitu lebat dan tak tentu, sekarang hujab besok terang benderang”.
”Iya”.
” Kalau hari-hari biasa saja sepi apalagi kalau hujan begini”, keluhnya.
”Oh, ya pak”
”Mungkin orang-orang sudah gengsi naik becak”.
Obrolan itu terhenti bersamaan telepeon genggamku berdering.
”Sebentar pak. Wa’alaikum salam halo, ada apa dhek?”
”Sudah bangun toh, dari tadi telepon tidak diangkat-angkat”.
”Maaf dik mungkin tadi mas masih tidur”.
”Ya sudah, nanti sore jadi ke rumah?”.
“Iya, baik, wa’alaikum salam”
Sudah hampir 1 tahun menjalin kasih dengannya. Baru kali ini aku menemui gadis yang tak hampir tak tersentuh oleh glamournya hidup seorang wanita jaman sekarang. Hanya kesederhanaan, dan satu yang sangat aku kagumi. Gadis sholehah yang sekarang bekerja sebagai apoteker. Bagai sebuah emas di atas hamparan pasir Sahara. Yang telah membuatku mabuk, kata Meggy. Z anggur belum seberapa. Setelah itu aku melewati aspal basah yang dipenuhi kendaraan menyambut penatnya hari. Membuat dunia ini semakin sempit. Tak berapa lama aku buka jeruji gerbang bengkel motor tua peninggalan bapak. Aku berniat menyelesaikan servis Pitung yang harus jadi nanti siang. Aku jadi berpikir ibarat Pitung ini, motor lintas jaman. Walaupun aroma kapitalis makin merebak, tapi masih ada yang menggandrunginya. Berharap seperti cintaku kepada Umi. ”Ahh..selesai juga”. Sambil istirahat aku berbaring di kursi bambu, yang kalau habis bangun punggung pegel-pegel.
Jam 14.30 aku terbangun, kali ini bukan mimpi buruk, yang hampir ada di cerita-cerita. Aku melihat disamping ranjang Umi sedang berdzikir. Rupanya dia habis sholat Tahajjud. Dia begitu permata hatiku yang takkan kubiarkan hilang dari dadaku.
“Eh..bangun ya mas, maaf kalau mungkin dzikir saya membangunkan Mas”.
“Oh ndak dhek, aku tak tau kenapa tiba-tiba terbangun”. Terima kasih ya Allah Kau anugerahkan dia kepada hamba”. Aku pergi ke WC. Aku tak henti-henti berpikir. Apakah saya pentas sebagai pendamping hidupnya?.
Setelah selesai buang hajat sebentar, aku kembali ke kamar. Dari balik pintu aku mendengan sepatah do’a Umi, dia berkata,”Ya Allah selama ini hidup hamba hanya selalu berbakti kepada Mu, hamba sudah bersukur masih dapat menjalani hidup untuk memuja Mu. Satu hal yang tak pernah aku lepas dalam do’a hamba. Mas Wisnu yang telah menjadi belahan jiwaku, saya akan tetap menjaga biduk cintaku bersamanya. Dia belum sepenuhnya menjadi hambamu, tapi itu takkan sederajatpun aku berpaling darinya. Ya Allah sekali lagai terima kasih. Semoga hidup kami abadi dunia akherat. Amin-amin ya rabbal ala’min”. Mendengar semua itu aku tahu, bahwa dialah yang terbaik untuk. Meneriama semua keadaanku yang sperti ini. Aku langsung membuka pintu kamar. Umi kaget karena kehadiranku mengagetkannya, melepas mukena mas kawin pernikahan kami. Takkan ku buang waktu. Ku dekap tubuhnya. Ku cium rambutnya, wangi surga membuat aku makin bergairah. ”Dhek sekarang dan selamanya, hanya kita berdua”. Setelah itu, pagi buta menjadi saksi sebuah karya abadi dua insan yang sedang memadu indahnya dunia.
Di pintu kamar aroma kopi berdesakkan, rasanya ingin cepat-cepat membangunkanku. Aku pun terperanjat tanpa rambu-rambu aku munyusuri dari mana aroma itu, ternyata Umi sudah menyiapkan segelas kopi lengkap dengan rokok kretek kesukaanku, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah. Aku sekarang masih meneruskan usha bengkel bapak. Dengan mempekerjakan 2 orang.
”Mi...mi...Umi!!”
”Di dapur mas, lagi nyuci piring”.
Aku pergi ke arah dapur dan segera memeluknya dari belakang, “Ih mas genit!, bantuin!”. Niat jahilku aku percikan air ke arahnya, langsung dia geram, dan langsung membalasnya.
Byurrrrrr........!!!!!!
”Heh!, bangun itu ada tamu katanya mau ngambil motor, kamu ini
dari kemarin kemana saja”.
Ibuku, wanita pertama yang paling aku cintai. Semenjak sepeninggal bapak 3 tahun lalu, aku menjadi tulang punggung keluarga aku hidup berdua dengan ibu. Berkat keahlianku sekolah di STM, aku meneruskan bengkel bapak. Walaupun ibu PNS aku tak mau menjadi beban wanita paling tegar ini. Aku selalu ingat pesan bapak bahwa laki-laki adalah kepala keluarga jadi harus belajar melawan kerasnya hidup dan yang paling penting kejarklah masa depanmu yang cerah. Walaupun yang kedua ini belum dapat terwujud sepenuhnya. Ibu sekarang masih menjadi guru SD, tinggal 5 tahun lagi Ibu pensiun. Aku sangat menghormati beliau, walaupun kadang aku sulit diatur, malas sholat. Tapi ibu tak pernah bosan-bosannya memarahiku. Tapi semenjak aku mengenalkan Umi kepada Ibu aku sedikit mulai sholat. Walau terkadang masih bolong-bolong.
”Maaf mas tadi ketiduran, ini motornya sudah jadi. Cuma karburatonya kotor, terus busi mati. Sudah diganti dengan yang baru”
”Oh ya makasih, asli kan mas!”
”Asli mas, bener!!”
”Kan sekarang lagi jamannya palsu-palsuan. Jadi berapa mas, semuanya”.
”30 ribu mas!”
”Nih..!!!”
”Lho mas, belum ada kembalinya mas?”
”Ya..sudah, buat beli rokok saja”
”Waduh...Makasih banyak mas!”
”Sama-sama, ga mampir dulu?”
”Terima kasih, ada keperluan mas. Kapan-kapan saja”.
”Sekali lagi makasih, hati-hati mas!”
Alhamdulillah, kalini ada uang lebih.
”Di tabung, buat nikah sama Umi”.
Dari dalam mungkin ibu mendengar suaraku tadi. Mendengar nama Umi aku jadi ingat aku akan kerumahnya. Bergegas aku mandi, mengguyur tubuh yang udah bau oli ini. Setelah dadan cakep aku langsung kebut si Blacky. Dengan gaya ala anak muda metropolitan, tapi kalau dilihat alamak...!!.
Sampai juga di depan pintu gerbang rumah Umi, tinggi sekali sampai-sampai harus teriak saat mengucapkan salam. Tak berapa lama pintu dibuka. Wah..sperti khayalanku, seorang istri yang membukakan pintu, setelah suaminya selesai bekerja sungguh bahagianya.
”Mas..mas..mas Wisnu...”
”Ehh...ya dhek”.
“Ngelamun saja”.
“Apa yang aku pikirkan coba, aku membayangkan seorang istri yang membukakan pintu, setelah suaminya selesai bekerja”.
“Memangnya siapa yang kau bayangka itu?.”
”Kamu”.
”Gombal!”.
”Bapak sama ibu sudah dimenunggu dari tadi”.
“Waduh maaf ya dhek!”
“Engga apa-apa, kan Cuma terlambat sebentar.”
”Tapi kan jadi tidak enak sama orang tua mu...”
”Jangan ngomong seperti itu, belum apa-apa sudah ngeluh”. Potong Umi.
Setelah masuk rumah Umi, bapak ibu Umi sudah duduk di ruang tamu, sebelumnya aku agak kurang mantap. Sekarang tubuhku mendadak mati rasa. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua Umi terhadapku. Aku bagai pecundang.
Tapi tiba-tiba apa yang terjadi.
”Lho kok berdiri saja, silakan duduk”.
Ibu Umi segera menyuruhku duduk di kursi ukir Jepara itu. Terdengar begitu lembut suarnya. Saat aku duduk kursi berbunnyi, ”kreeooottt...”. Bapaknya Umi yang sedang asik memberi makan ikan mas koki kesayangannya sesekali melirikku. Semoga perasaan tadi muncul lagi.
”Oh ini yang namanya Wisnu, Umi sudah cerita banyak tentang kamu, dan hubungan kalian berdua.”
Ternyata semua diluar dugaanku.

8 Okt 2009

ORANG INDONESIA YANG LATAH

Ada-ada saja tingkah si Indonesia ini, kadang diam tapi diam-diam anjing. yang siap mengigit orang yang mengganggu. Guk..gukk...
dan latah kaya banci kaleng...selalu ikut-ikutan apa yang sedang marak, tapi apa dia tahu. Bukanya takut dibilang ketinggalan jaman. haaaaa...bullshit. Tapi aku tetep cinta INDONESIA..

Mengenai Saya

Foto Saya
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Lahir di Banyumas, Jawa Tengah. dengan nama Kukuh Aji Bakhtiar. tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, fakultas KIP. Aktif di kegiatan UKM Teater PERISAI

Free Templates

Tab 1.1
Tab 1.2
Tab 1.3
Tab 2.1
Tab 2.2
Tab 2.3
Tab 3.1
Tab 3.2
Tab 3.3