Hello... Responsival Theme is another template for Blogger users. PLAY with this responsive design and SEE the release on my blog.

1 Okt 2009

Mahasiswa Bukan Boneka Mainan Dosen

Mahasiswa Bukan Boneka Mainan Dosen
Impian bisa melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, adalah kebanggaan bagi sebagian orang. Terlepas dari seragam SMA, status siswa menjadi mahasiswa. Tentunya diikuti dengan pola pikir yang berubah, dan juga dapat mengfungsikannya dengan tepat pada porsi masing-masing mahasiswa.Telah kita ketahui mahasiswa adalah agent of change, penerus tongkat estafet kepemimpinan bangsa.
Tentunya harus disertai dengan sarana prasarana yang menunjang. Tapi jangan selalu terpaku dengan hal itu, sebagai contoh kita tetap bisa berteriak tanpa harus menggunakan mikrofon atau speaker. Jadi tergantung bagaimana mahasiswa dalam menyalurkan kreatifitasnya. Teatapi tidak menomorduakan sarana prasarana, yang sewaktu-waktu dapat kita manfaatkan.
Hal ini juga berpengaruh di antara masalah yang dijelaskan di atas, yakni masih adanya beberapa dosen yang masih menganggap mahasiswa seperti sebuah boneka mainan yang dapat dimainkan sesuka hatinya. Dosen-dosen yang seperti demikian juga faktor yang mempengaruhi proses kreatifitas mahasiswa. Ada dosen yang merasa sombong dengan kapasitas ilmu yang dimilikinya, yang sudah menempuh pendidikan lebih tinggi dan waktu yang cukup lama.Tak jarang dosen-dosen yang demikian adalah dosen yang sudah tua, bergelar doktor, professor.
Mereka mempersulit mahasiswa yang ingin benar-benar mencurahkan segala pemikiran yang dimilikinya. Dosen kerap memberi tugas, dan harus dikumpulkan tepat waktu. Apabila ada mahasiswa yang telat mengumpulkan tugas tidak diterima, ditolak mentah-mentah. Menurut mereka mahasiswa harus memiliki pemikiran yang sama dengan mereka. Jelas-jelas salah salah besar, karena setiap mahasiswa memiliki kadar pemikiran yang berbeda-beda. Satu sisi ingin bebas berkreasi tapi disisi lain mereka terpasung dengan sikap otoriter dosen. Pada umumnya mahasiswa adalah kaum muda yang sedang bergairah dalam proses mengekspresikan diri mereka. Seringkali tercetus pemikiran yang belum tentu dapat dimengerti dosen. Tanpa toleransi, itu yang patut dikatakan. Hal yang lain adalah setiap manusia dikaruniai skill dan bakat yang beragam. Apabila tidak dikembangkan, akan sia-sia. Padahal menurut Kuncoroningrat, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa mengembangkan potensi yang dimiliki individu tersebut.
Idealnya mahasiswa dapat terbantu dalam pencarian jati dirinya, bukan sebaliknya. Manakala dosen menentukan segala kebijakan dalam proses perkuliahan, dipastikan banyak hal yang tidak dapat tersampaikan. Jika tetap demikian dosen tetap dengan egonya, proses transfer ilmu dan nilai dari ilmu tersebut akan tersumbat. Selama ini dosen cenderung hanya melakukan transfer ilmunya, tetapi mengabaikan nilai-nilai kearifan budaya dan agama yang dapat digali dari sebuah ilmu.
Jangan menilai mahasiswa dari luarnya saja. Disini civitas akademika bukan SMA,SMP, SD, bahkan TK. Dalam pengaplikasian apa yang didapat di bangku kuliah lebih banyak yang behubungan dengan soft skill yang bukan didapat dari mata kuliah, makalah, praktikum, tugas, ataupun skripsi. Tapi bagaimana dia

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
Lahir di Banyumas, Jawa Tengah. dengan nama Kukuh Aji Bakhtiar. tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, fakultas KIP. Aktif di kegiatan UKM Teater PERISAI

Free Templates

Tab 1.1
Tab 1.2
Tab 1.3
Tab 2.1
Tab 2.2
Tab 2.3
Tab 3.1
Tab 3.2
Tab 3.3