Tak Terduga
Cerpen Kukuh A. Bakhtiar
Tepat pukul 05:45 aku tebangun, dirumah Andreas teman SMP ku dulu, yang kental sekali gaya Eropanya. Terlalu sembrono bagiku mendahului sang mentari. Entah apa yang membangunkanku. Teman-temanku masih asik bercumbu dengan mimpinya dengan tidurnya. Setelah melewati malam, sambil nonton bola bareng. Hujan deras membasahi piggiran kota yang masih perawan, yang belum terjamah oleh globalisasi. Gelap dan sunyi. Tampak bebrapa orang yang mulai mengadu hari. Seorang nenek tua berjalan menggendong bakul. Tampak kontras dengan globalisasi jaman sekarang, yang semakin menggerus kearifan lokal.
Aku beranjak pulang, tanpa pamit aku langsung mengeber si Blacky, Vespa butut tinggalan bapak. Seklebat terbayang dalam benakku. Baru setengah jalan hujan deras megguyur.
Disebuah warung makan kecil di pinggir jalan aku berhenti rasanya perut ini berontak. Sambil menunggu hujan reda menghirup segelas kopi, dengan rokok kretek, rasanya kurang afdol jika membuka hari tanpa kopi dan rokok. Bukanya latah dengan istilah Mbah Surip yang terkenal itu, ”Perbanyak ngopi, kurangi tidur”, tapi memang sudah lama menjadi gaya hidupku. Aku duduk berjajr dengan laki-laki paruh baya, yang katanya tukang becak.
”Akhir-akhir ini hujan begitu lebat dan tak tentu, sekarang hujab besok terang benderang”.
”Iya”.
” Kalau hari-hari biasa saja sepi apalagi kalau hujan begini”, keluhnya.
”Oh, ya pak”
”Mungkin orang-orang sudah gengsi naik becak”.
Obrolan itu terhenti bersamaan telepeon genggamku berdering.
”Sebentar pak. Wa’alaikum salam halo, ada apa dhek?”
”Sudah bangun toh, dari tadi telepon tidak diangkat-angkat”.
”Maaf dik mungkin tadi mas masih tidur”.
”Ya sudah, nanti sore jadi ke rumah?”.
“Iya, baik, wa’alaikum salam”
Sudah hampir 1 tahun menjalin kasih dengannya. Baru kali ini aku menemui gadis yang tak hampir tak tersentuh oleh glamournya hidup seorang wanita jaman sekarang. Hanya kesederhanaan, dan satu yang sangat aku kagumi. Gadis sholehah yang sekarang bekerja sebagai apoteker. Bagai sebuah emas di atas hamparan pasir Sahara. Yang telah membuatku mabuk, kata Meggy. Z anggur belum seberapa. Setelah itu aku melewati aspal basah yang dipenuhi kendaraan menyambut penatnya hari. Membuat dunia ini semakin sempit. Tak berapa lama aku buka jeruji gerbang bengkel motor tua peninggalan bapak. Aku berniat menyelesaikan servis Pitung yang harus jadi nanti siang. Aku jadi berpikir ibarat Pitung ini, motor lintas jaman. Walaupun aroma kapitalis makin merebak, tapi masih ada yang menggandrunginya. Berharap seperti cintaku kepada Umi. ”Ahh..selesai juga”. Sambil istirahat aku berbaring di kursi bambu, yang kalau habis bangun punggung pegel-pegel.
Jam 14.30 aku terbangun, kali ini bukan mimpi buruk, yang hampir ada di cerita-cerita. Aku melihat disamping ranjang Umi sedang berdzikir. Rupanya dia habis sholat Tahajjud. Dia begitu permata hatiku yang takkan kubiarkan hilang dari dadaku.
“Eh..bangun ya mas, maaf kalau mungkin dzikir saya membangunkan Mas”.
“Oh ndak dhek, aku tak tau kenapa tiba-tiba terbangun”. Terima kasih ya Allah Kau anugerahkan dia kepada hamba”. Aku pergi ke WC. Aku tak henti-henti berpikir. Apakah saya pentas sebagai pendamping hidupnya?.
Setelah selesai buang hajat sebentar, aku kembali ke kamar. Dari balik pintu aku mendengan sepatah do’a Umi, dia berkata,”Ya Allah selama ini hidup hamba hanya selalu berbakti kepada Mu, hamba sudah bersukur masih dapat menjalani hidup untuk memuja Mu. Satu hal yang tak pernah aku lepas dalam do’a hamba. Mas Wisnu yang telah menjadi belahan jiwaku, saya akan tetap menjaga biduk cintaku bersamanya. Dia belum sepenuhnya menjadi hambamu, tapi itu takkan sederajatpun aku berpaling darinya. Ya Allah sekali lagai terima kasih. Semoga hidup kami abadi dunia akherat. Amin-amin ya rabbal ala’min”. Mendengar semua itu aku tahu, bahwa dialah yang terbaik untuk. Meneriama semua keadaanku yang sperti ini. Aku langsung membuka pintu kamar. Umi kaget karena kehadiranku mengagetkannya, melepas mukena mas kawin pernikahan kami. Takkan ku buang waktu. Ku dekap tubuhnya. Ku cium rambutnya, wangi surga membuat aku makin bergairah. ”Dhek sekarang dan selamanya, hanya kita berdua”. Setelah itu, pagi buta menjadi saksi sebuah karya abadi dua insan yang sedang memadu indahnya dunia.
Di pintu kamar aroma kopi berdesakkan, rasanya ingin cepat-cepat membangunkanku. Aku pun terperanjat tanpa rambu-rambu aku munyusuri dari mana aroma itu, ternyata Umi sudah menyiapkan segelas kopi lengkap dengan rokok kretek kesukaanku, tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah. Aku sekarang masih meneruskan usha bengkel bapak. Dengan mempekerjakan 2 orang.
”Mi...mi...Umi!!”
”Di dapur mas, lagi nyuci piring”.
Aku pergi ke arah dapur dan segera memeluknya dari belakang, “Ih mas genit!, bantuin!”. Niat jahilku aku percikan air ke arahnya, langsung dia geram, dan langsung membalasnya.
Byurrrrrr........!!!!!!
”Heh!, bangun itu ada tamu katanya mau ngambil motor, kamu ini
dari kemarin kemana saja”.
Ibuku, wanita pertama yang paling aku cintai. Semenjak sepeninggal bapak 3 tahun lalu, aku menjadi tulang punggung keluarga aku hidup berdua dengan ibu. Berkat keahlianku sekolah di STM, aku meneruskan bengkel bapak. Walaupun ibu PNS aku tak mau menjadi beban wanita paling tegar ini. Aku selalu ingat pesan bapak bahwa laki-laki adalah kepala keluarga jadi harus belajar melawan kerasnya hidup dan yang paling penting kejarklah masa depanmu yang cerah. Walaupun yang kedua ini belum dapat terwujud sepenuhnya. Ibu sekarang masih menjadi guru SD, tinggal 5 tahun lagi Ibu pensiun. Aku sangat menghormati beliau, walaupun kadang aku sulit diatur, malas sholat. Tapi ibu tak pernah bosan-bosannya memarahiku. Tapi semenjak aku mengenalkan Umi kepada Ibu aku sedikit mulai sholat. Walau terkadang masih bolong-bolong.
”Maaf mas tadi ketiduran, ini motornya sudah jadi. Cuma karburatonya kotor, terus busi mati. Sudah diganti dengan yang baru”
”Oh ya makasih, asli kan mas!”
”Asli mas, bener!!”
”Kan sekarang lagi jamannya palsu-palsuan. Jadi berapa mas, semuanya”.
”30 ribu mas!”
”Nih..!!!”
”Lho mas, belum ada kembalinya mas?”
”Ya..sudah, buat beli rokok saja”
”Waduh...Makasih banyak mas!”
”Sama-sama, ga mampir dulu?”
”Terima kasih, ada keperluan mas. Kapan-kapan saja”.
”Sekali lagi makasih, hati-hati mas!”
Alhamdulillah, kalini ada uang lebih.
”Di tabung, buat nikah sama Umi”.
Dari dalam mungkin ibu mendengar suaraku tadi. Mendengar nama Umi aku jadi ingat aku akan kerumahnya. Bergegas aku mandi, mengguyur tubuh yang udah bau oli ini. Setelah dadan cakep aku langsung kebut si Blacky. Dengan gaya ala anak muda metropolitan, tapi kalau dilihat alamak...!!.
Sampai juga di depan pintu gerbang rumah Umi, tinggi sekali sampai-sampai harus teriak saat mengucapkan salam. Tak berapa lama pintu dibuka. Wah..sperti khayalanku, seorang istri yang membukakan pintu, setelah suaminya selesai bekerja sungguh bahagianya.
”Mas..mas..mas Wisnu...”
”Ehh...ya dhek”.
“Ngelamun saja”.
“Apa yang aku pikirkan coba, aku membayangkan seorang istri yang membukakan pintu, setelah suaminya selesai bekerja”.
“Memangnya siapa yang kau bayangka itu?.”
”Kamu”.
”Gombal!”.
”Bapak sama ibu sudah dimenunggu dari tadi”.
“Waduh maaf ya dhek!”
“Engga apa-apa, kan Cuma terlambat sebentar.”
”Tapi kan jadi tidak enak sama orang tua mu...”
”Jangan ngomong seperti itu, belum apa-apa sudah ngeluh”. Potong Umi.
Setelah masuk rumah Umi, bapak ibu Umi sudah duduk di ruang tamu, sebelumnya aku agak kurang mantap. Sekarang tubuhku mendadak mati rasa. Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua Umi terhadapku. Aku bagai pecundang.
Tapi tiba-tiba apa yang terjadi.
”Lho kok berdiri saja, silakan duduk”.
Ibu Umi segera menyuruhku duduk di kursi ukir Jepara itu. Terdengar begitu lembut suarnya. Saat aku duduk kursi berbunnyi, ”kreeooottt...”. Bapaknya Umi yang sedang asik memberi makan ikan mas koki kesayangannya sesekali melirikku. Semoga perasaan tadi muncul lagi.
”Oh ini yang namanya Wisnu, Umi sudah cerita banyak tentang kamu, dan hubungan kalian berdua.”
Ternyata semua diluar dugaanku.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar